Literasi Menjadi Terapi di Masa Pandemi

Tanggal

PROGRAM GMB-INDONESIA

PROGRAM
GMB-INDONESIA

1. GSMB NASIONAL

Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional (GSMB Nasional) adalah sebuah program pengembangan literasi sekolah, yang memfasilitasi seluruh siswa dan guru jenjang SD, SMP, SMA dan sederajat untuk dapat menerbitkan buku berISBN, mendapatkan pelatihan dan sertifikasi kompetensi, pendampingan pengembangan program literasi, serta kompetisi berliterasi paling bergengsi di tingkat nasional dengan total hadiah jutaan rupiah.

2. SPL Nasional 2021

Sosialisator Program Literasi Nasional (SPL Nasional) adalah penggerak literasi nasional yang dibentuk, dilatih dan dikembangkan oleh Tim GMB-Indonesia

3. BANPELIP

Program BANPELIP berfokus untuk mendorong peningkatan kompetensi berliterasi melalui serangkaian program pelatihan dan sertifikasi, sekaligus mendorong produktivitas dan publikasi karya dengan fasilitas penerbitan buku selama 3 tahun.

Oleh: AW Priatmojo

(Penulis, Co-founder GMB-Indonesia)

Film Freedom Writers (2007) garapan Richard LaGravenese, mungkin bisa menjadi salah satu bukti betapa besar peranan pendidik dan literasi bagi pembangunan karakter siswa-siswinya. Film ini diangkat dari kisah nyata seorang guru bernama Erin Gruwell yang mengajar di suatu sekolah, di mana ia harus berhadapan dengan siswa-siswinya yang bermasalah: sering terlibat perkelahian antargeng rasial. Erin Gruwell, seorang wanita idealis berpendidikan tinggi, datang ke Woodrow Wilson High School sebagai guru Bahasa Inggris untuk kelas khusus anak-anak korban perkelahian antargeng.  Tujuan Erin sangat mulia, ingin memberikan pendidikan layak bagi anak-anak bermasalah yang bahkan guru lebih berpengalaman di sekolah itu menepikan dan enggan mengajar mereka.

Di hari pertamanya mengajar, ia menyadari bahwa perang antargeng yang terjadi di kota tersebut, juga terbawa sampai ke dalam kelas. Di dalam kelas, mereka bahkan duduk berkelompok menurut ras masing-masing. Awal mengajar, Erin lebih banyak menerima penolakan dan tidak dianggap ketika mengajar.

Hingga suatu hari, Erin mencoba mencari cara baru untuk mengajar. Ia mencoba menaklukkan murid-muridnya dengan meminta mereka menulis jurnal harian. Di jurnal harian itu, mereka boleh menulis apa pun yang mereka inginkan, rasakan, dan alami setiap harinya. Selain itu, Erin juga menceritakan buku yang berisi kisah anak-anak lain di belahan dunia lainnya, termasuk kisah dari Anne Frank (korban kejahatan Holocaust) dalam Diary of Anne Frank.

Cara ini ternyata berhasil. Jurnal harian dari siswa-siswinya setiap hari kembali pada Erin dengan tulisan mereka tentang apa yang mereka alami dan mereka pikirkan setiap hari.

Dari jurnal harian itu, Erin paham ia harus membuat para siswanya sadar bahwa perang antargeng yang mereka alami bukanlah segalanya di dunia; bukanlah penghambat untuk mencapai cita-citanya. Melalui cara mengajarnya yang unik, ia berusaha membuat para siswanya sadar bahwa dengan pendidikan, mereka akan bisa mencapai kehidupan yang lebih baik. Jurnal harian siswa-siswinya itu pada akhirnya dikumpulkan oleh Erin Gruwell dan diterbitkan menjadi sebuah buku. Buku tersebut akhirnya juga menjadi salah satu buku Best Seller di Amerika Serikat.

Kiriman Menarik Lainnya:  Melawan Radikalisme dan Terorisme dengan Literasi

Sekarang, mari tengok keadaan pendidikan Indonesia di masa pandemi saat ini. Masih banyak kampus dan sekolah yang menerapkan kegiatan belajar-mengajar melalui daring untuk mengurangi penyebaran koronavirus. Siswa, guru, mahasiswa, dan dosen masih harus menjalankan kegiatan belajar-mengajarnya dari rumah. Di masa pandemi ini, guru dan dosen mesti mengajar dengan cara baru; siswa dan mahasiswa mesti belajar dengan cara yang tidak seperti biasanya. Belum lagi, melihat para pendidik dan siswa-siswi kita yang berada di daerah pelosok Indonesia, yang mesti berjuang untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar daring mereka. Kita saat ini tengah menghadapi tantangan cukup berat untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di masa pandemi.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan kebijakan dengan penyederhanaan kurikulum di masa pandemi. Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan, kurikulum itu akan menekankan tiga prioritas, yaitu literasi, numerasi, dan pendidikan karakter.

Literasi Menjadi Terapi

Kegiatan literasi, dalam hal ini membaca dan menulis, selain berguna untuk pembangunan karakter dan pengembangan diri, juga dapat berguna sebagai rekreasi. Kegiatan membaca dan berkarya (dalam hal ini menulis) dapat juga menjadi pemberhentian sejenak dari segala masalah, hambatan, dan tantangan di masa pandemi ini.

Kegiatan membaca, bisa menjadi jendela bagi kita untuk merasakan atau mempelajari pengalaman negara lain saat menghadapi pandemi. Dan, kegiatan membaca bisa menjadi cara untuk bertamasya ke segala penjuru dunia, di tengah keterbatasan kita untuk tetap berada di rumah.

Membaca bisa membawa kita menembus batas-batas yang kita hadapi saat masa pandemi. Sedangkan kegiatan menulis, dapat menjadi media kita untuk mengeluarkan segala penat dan melepaskan segala beban yang kita panggul selama pandemi melanda.

Lalu, mari kita kembali membayangkan yang telah dilakukan Erin Gruwell untuk membantu siswa-siswinya keluar dari permasalahan perang antargeng. Permasalahan perang antargeng itu bisa juga kita bayangkan sebagai pandemi koronavirus yang kini tengah membahayakan siswa-siswi kita. Dengan membaca atau menonton kisah itu kembali, saya semakin yakin, bahwa para pendidik Indonesia dapat melewati masa pandemi ini dan menyelamatkan generasi muda kita hingga menuntunnya ke masa depan yang menyala!

Kiriman Menarik Lainnya:  AYO DUKUNG PROGRAM LITERASI DARI GERAKAN MENULIS BUKU INDONESIA!

Akademisi Menulis Buku

GMB-Indonesia berkomitmen untuk senantiasa memberi ruang dalam upaya memajukan pendidikan dan literasi di Indonesia. Setelah meluncurkan program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional yang Ke-5 (mengajak siswa-siswi dan sekolah untuk menerbitkan buku bersama), di masa pandemi ini, GMB-Indonesia juga meluncurkan Akademisi Menulis Buku yang merupakan program pengembangan literasi bagi akademisi Indonesia (mahasiswa, guru, dan dosen) untuk meningkatkan keterampilan berliterasi dan berkarya dengan menulis puisi atau artikel populer. Karya-karya tersebut nantinya juga akan diterbitkan dalam buku antologi bersama dan dipublikasikan secara nasional.

Mengusung semangat berkompetisi, berbagi, dan menginspirasi, GMB-Indonesia menyelenggarakan program Akademisi Menulis Buku dengan rangkaian acara: lomba menulis puisi dan artikel populer, penerbitan Buku Antologi Bersama Akademisi Indonesia, pembelajaran melalui workshop digital, penganugerahan juara, dan peluncuran buku bersama.

Diharapkan, dengan Akademisi Menulis Buku ini, para akademisi dapat menginspirasi dan mengajak siswa-siswi dan masyarakat umum untuk berkarya, dan memajukan literasi di Indonesia.

Cek info lengkap Akademisi Menulis Buku di: www.akademisimenulisbuku.com

Artikel
Terkait

KBBI Pemutakhiran Bulan April 2020

KBBI EDISI V [BAHASBAHASA] Pemutakhiran KBBI dilakukan dua kali setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober. Pemutakhiran terakhir, dilakukan pada bulan April 2020. Pemutakhiran April 2020: Entri Baru: 1.011 Makna Baru: 1.200 Contoh Baru: 154 Perubahan Entri: 208 Perubahan Makna: 278 Perubahan Contoh: 13 Entri

Selengkapnya »

Kebahagiaan dalam Membaca dan Menulis

Satriana merupakan seorang guru Bahasa & Sastra Indonesia dan Kepala Perpustakaan SMABELS serta Ketua Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMAN 11 Kendari Ada beberapa hal yang membuat Satriana ingin menggeluti dunia literasi, sebagai pribadi ia merasa senang dengan dunia literasi. Ada kebahagian setelah membaca sesuatu

Selengkapnya »

Harapan dan Literasi

Literasi – Gemini Mursela Putri merupakan seorang Sosialisator Program Literasi Nasional (SPL Nasional) angkatan 2019, dari daerah Dharmasraya. Selain menjalani aktivitas bersama GMB-Indonesia di Festival Literasi Dharmasraya, ia juga sedang merintis bisnis di bidang fashion dan kuliner. Membicarakan mengenai dunia literasi, banyak faktor yang membuatnya

Selengkapnya »